
Pematangsiantar // Kennedynews.id
Jumat (07/08/2026) – Pagi itu, suasana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Simalungun (USI) terasa berbeda. Ratusan mahasiswa berkumpul dengan penuh perhatian, bukan untuk kuliah biasa, tetapi untuk mengikuti workshop anti bullying yang digelar oleh Polres Pematangsiantar.
Dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Ke 81, Polres Pematangsiantar melalui Satuan Binmas menggelar Workshop Anti Bullying bagi mahasiswa FKIP USI pada Jumat pagi, 7 Agustus 2026, sekira pukul 11.00 WIB.
Kasat Binmas Beri Materi
Kasat Binmas AKP Maxi J. Manurung, S.H., hadir langsung menyampaikan materi tentang anti bullying. Inti dari materinya adalah pentingnya memahami apa yang dimaksud dengan bullying, yaitu segala bentuk tindakan penindasan dan kekerasan yang dilakukan secara sengaja ataupun tidak disengaja.
Jenis-jenis Bullying
Dalam pemaparannya, Kasat Binmas menjelaskan beberapa macam jenis bullying yang bisa berupa verbal atau fisik:
- Verbal: julukan nama, celaan, fitnah, penghinaan, pelecehan, teror, gosip, dan sebagainya
- Fisik: memukul, menendang, mencekik, meludahi, dan berbagai tindakan fisik lainnya
Dampak Bullying dan Upaya Pencegahan
Kasat Binmas juga menjelaskan dampak bullying terhadap korban dan pelaku, serta upaya pencegahan bullying di lingkungan sekolah. Hal ini penting bagi mahasiswa FKIP yang kelak akan menjadi tenaga pengajar dan membina generasi-generasi penerus bangsa.
Peran Polri Cegah Bullying
Terakhir, Kasat Binmas menyampaikan upaya Polri dalam mencegah bullying dengan cara:
- Melakukan kegiatan patroli rutin
- Sambang ke sekolah-sekolah
- Adanya layanan Call Centre 110 Polri (bebas pulsa) yang siap menerima laporan dari masyarakat
Apresiasi Kennedynews.id
Kennedynews.id mengapresiasi langkah Polres Pematangsiantar yang menggelar workshop anti bullying bagi mahasiswa FKIP USI.
Kegiatan ini sangat penting untuk membekali calon guru dengan pemahaman tentang bahaya bullying dan cara mencegahnya di lingkungan sekolah. Dengan adanya edukasi dari kepolisian, diharapkan para mahasiswa FKIP dapat menjadi tenaga pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga melindungi siswa dari tindakan perundungan.
Semoga kegiatan serupa terus dilaksanakan di berbagai institusi pendidikan di Kota Pematangsiantar.
(Edi.Hlw)





Tinggalkan Balasan