Sorot Tajam Jalur Gunungsitoli -Afia: Hak Keselamatan Diabaikan, Mantan Humas LSM PKP Desak Pemko Hadirkan Kemerdekaan Hakiki

Posted by

Pekik merdeka dan gelak tawa anak-anak membahana di sudut utara Pulau Nias. Puluhan siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Raudhatul Athfal (RA) Alhabib yang terletak di Dusun III Umbu, Desa Olora, Kecamatan Gunungsitoli Utara, Kota Gunungsitoli, sukses memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dengan menggelar berbagai perlombaan khas kemerdekaan.

Keterbatasan geografis di wilayah kepulauan tidak menyurutkan langkah nyata sekolah ini untuk menanamkan jiwa patriotisme sejak dini. Berdasarkan pantauan lapangan, lembaga pendidikan ini telah mengadopsi “Kurikulum Berbasis Cinta”, sebuah metode inovatif yang mengintegrasikan aspek kasih sayang dengan penanaman karakter kokoh, termasuk pilar utama ‘Cinta Tanah Air’.

Namun, hasil investigasi media ini di lokasi menunjukkan adanya ironi besar yang mencoreng arti kemerdekaan itu sendiri. Keselamatan jiwa generasi penerus bangsa tersebut terancam setiap harinya, lantaran jalur utama tepat di depan gerbang sekolah mereka menyimpan potensi bahaya fatal yang luput dari mitigasi dan perhatian serius pemerintah daerah. Bagaimana mungkin kemerdekaan hakiki bisa dirasakan oleh anak-anak penerus bangsa ini jika hak paling dasar mereka untuk selamat di jalan raya belum terpenuhi?

Kondisi rawan ini memicu keprihatinan mendalam dari Mantan Humas LSM PKP Pedang Keadilan Perjuangan Kota Gunungsitoli, Ahmad Sabran Jamil Mendrofa. Ia secara lantang menyoroti minimnya kepekaan instansi terkait dalam menyediakan infrastruktur keselamatan jalan raya bagi anak-anak yang menimba ilmu di kawasan tersebut.

“Jalan lintas Gunungsitoli-Afia ini bukan sekadar jalur desa yang sepi, melainkan urat nadi transportasi antarkota yang menghubungkan langsung Kota Gunungsitoli dengan Kabupaten Nias Utara. Setiap menit, kendaraan roda dua, mobil pribadi, hingga truk bermotor bertonase besar melintas dengan kecepatan tinggi,” ungkap Ahmad Sabran Jamil Mendrofa kepada Kennedynews.id saat memantau langsung kondisi di lokasi.

Dari pengamatan investigatif, posisi RA Alhabib yang bertengger tepat di pinggir jalur sepadat itu sangat rentan memicu kecelakaan lalu lintas fatal. Sangat miris melihat kawasan pendidikan anak usia dini yang sangat aktif ini belum dilengkapi dengan infrastruktur keselamatan vital sama sekali. Di lokasi tidak ditemukan adanya Zona Selamat Sekolah (ZOSS), pita pengaduk kecepatan (rumble strips), maupun marka peringatan anak menyeberang yang jelas.

“Kami mendesak Dinas Perhubungan dan Pemerintah Kota Gunungsitoli untuk segera turun ke lapangan dan melakukan langkah konkret. Jangan tunggu sampai ada darah yang tumpah atau jatuh korban jiwa dari anak-anak kita maupun orang tua yang menjemput, baru pemerintah sibuk berbenah. Negara harus hadir memberikan jaminan keselamatan agar kemerdekaan hakiki benar-benar dirasakan oleh generasi penerus kita di pelosok Nias ini. Mitigasi keselamatan harus dilakukan sekarang juga, bukan nanti!” tegas Ahmad Sabran dengan nada menohok.

Hingga berita ini diturunkan, riuhnya nuansa merah putih dan semangat perlombaan anak-anak RA Alhabib dalam merayakan kemerdekaan tetap berjalan tertib dengan pengawasan ketat dari para orang tua yang diliputi rasa was-was. Momentum HUT RI ke-81 ini menjadi rapor merah sekaligus tamparan keras bagi pemerintah daerah untuk segera bertindak nyata mengamankan jalur pendidikan demi masa depan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *