
Oleh: Mawarni Harefa Jurnalis Media Kennedy bersuara news.
Wahai para pengemban amanah, ketahuilah…
Khutbah Jumat Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto di mimbar Masjid Mabes Polri bukanlah sekadar untaian kalimat yang menguap bersama salam penutup. Ia adalah gema abadi yang mengingatkan ruhani kita: bahwa pangkat yang melekat di pundak, jabatan yang digenggam jemari, dan kuasa yang diagungkan manusia, hanyalah setitik debu fatamorgana. Semuanya akan sirna, menyisakan pertanggungjawaban yang mahaberat di hadapan Al-Khaliq.
Namun, di manakah ujian sejati dari khutbah itu tegak berdiri? Bukan di podium formalitas, melainkan di kedalaman hati para hamba yang memegang urusan manusia lainnya—di atas meja-meja pelayanan penyidikan, di mana keadilan sering kali diuji oleh kabut ego.
Di bumi Polres Nias, lembaran takdir rohani itu sedang dibentangkan melalui kehadiran Ama Cindy. Di mata lahiriah yang tertutup hijab keduniawian, ia tampak bersahaja. Berjalan dengan langkah menunduk, dan dengan lisan yang tawaduk mengaku hanyalah ‘orang sekolahan level rendah’. Di hadapannya, bangkitlah nafs ammarah—nafsu kedirian yang merasa lebih tinggi. Oknum penyidik menghadapinya dengan benteng kata-kata semu: “Sedang proses,” atau “Biar dinaikkan ke meja pimpinan.” Kalimat-kalimat klise yang digunakan untuk menutupi kelalaian atas hak SP2HP yang telah berbulan-bulan membeku dalam sunyi.
Bahkan, ketika naskah surat dan prosedur administrasi yang berantakan itu disentuh oleh kritik, hati oknum aparat bergejolak hebat. Gestur tubuh menegang, tatapan mata menolak kebenaran. Mereka lupa, seragam gagah dan keahlian formal sering kali menjadi hijab tertebal yang membutakan mata batin dari melihat keadilan.
Ketahuilah, di balik tirai ketawadukan itu, Allah sedang menunjukkan kuasa-Nya. Ama Cindy, yang di dunia lahiriah dikenal sebagai jurnalis senior dan Kaperwil sebuah media, sejatinya adalah seorang salik yang menempuh jalan rida Allah melalui Pondok Pesantren Persulukan Tarekat Naqsyabandiyah Jabal Rahmah Riau.
Setiap argumen hukum dan ketelitian naskah yang ia sodorkan tidak lahir dari luapan amarah atau dendam duniawi. Ia digali dari telaga bimbingan rohani Guru Mursyidnya, Saidi Syekh DR. H. Ramlan Busthomi Diya Al-Haq, yang silsilah ruhaninya tersambung mulia ke pusat zikir Jabal Qubis, Tanjung Morawa, Sumatera Utara.
Sebagai murid tarekat yang jiwanya ditempa untuk menghidupkan Zikir Khafi—zikir yang berdenyut senyap di lubuk jantung terdalam—Ama Cindy tidak membalas arogansi dengan caci maki. Ia menghadapinya dengan senjata muraqabah, merasa senantiasa berada dalam tatapan Allah. Ketenangan batin itulah yang memancarkan cahaya akal yang teramat jernih, hingga mampu menguliti setiap kecerobohan, kepalsuan berkas yang disalin-tempel, dan kepura-puraan yang tersembunyi di balik wibawa palsu.
Wahai diri yang berseragam… mari kita bercermin pada hakikat spiritual ini.
Bagaimana mungkin seorang salik yang diajarkan menundukkan ego serendah bumi, justru dikaruniai Allah ketajaman untuk menundukkan kesombongan mereka yang mendongakkan dagu ke langit? Ini adalah tamparan rohani. Di hadapan mahkamah Allah kelak, ornamen duniawi tidak akan mampu membeli diskon atas kelalaian kita terhadap hak-hak rakyat kecil.
Tagline “Polisi Bersama Masyarakat” tidak akan pernah menjelma menjadi nur (cahaya) yang memberkahi institusi ini, apabila hati kita masih mati dari rasa bersalah dan alergi terhadap kebenaran. Semoga kisah dari bumi Nias ini menjadi wasilah bagi para penegak hukum untuk ikut ‘bersuluk’ dalam tugasnya—menyembelih nafsu kesombongan di meja kerja, merapikan hati saat merapikan seragam, dan menyadari bahwa setiap ketukan pena penyidik bergetar hingga ke Arsy Allah SWT.








Tinggalkan Balasan