
Medan // kennedynews.id
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan mencatatkan sejarah baru dalam perjalanan akademiknya dengan menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka Pengukuhan dan Pelepasan Guru Besar yang berlangsung khidmat di Gedung H. M. Arsyad Thalib Lubis, Kampus I Sutomo, Rabu, 22 April 2026. Momen bersejarah ini menandai lompatan besar dalam penguatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan universitas, di mana UINSU Medan kini telah memiliki total 70 Guru Besar. Akselerasi akademik yang signifikan ini menjadi bukti nyata komitmen universitas dalam memperkuat barisan intelektualnya di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag
Dalam pidatonya yang sarat dengan pesan moral dan intelektual, Prof. Nurhayati menegaskan bahwa gelar Guru Besar bukanlah sekadar pencapaian administratif atau simbol status sosial semata, melainkan sebuah amanah berat untuk menjadi penjaga akal sehat publik. Beliau menekankan bahwa para Guru Besar harus mampu menjadi “mercusuar peradaban” yang memberikan arah di tengah kegelapan disorientasi nilai. Di era di mana teknologi informasi dan kecerdasan buatan berkembang sangat pesat, kehadiran para cendekiawan ini diharapkan dapat menjadi penyeimbang yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan kedalaman spiritualitas Islam yang moderat
Pengukuhan dan pelepasan guru besar di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan bukan sekadar seremoni akademik, melainkan momentum strategis yang menegaskan arah dan kualitas peradaban intelektual di Indonesia. Dalam konteks dinamika global yang semakin kompetitif, kehadiran para guru besar baru menjadi penanda bahwa perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada fungsi pengajaran semata, tetapi harus bergerak lebih progresif sebagai pusat produksi ilmu pengetahuan, inovasi, dan solusi atas problem kebangsaan.
Guru besar merupakan puncak karier akademik yang sarat dengan tanggung jawab moral dan intelektual. Mereka tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah yang bereputasi, tetapi juga mampu mentransformasikan ilmu menjadi kebijakan, praktik sosial, dan nilai-nilai yang berdampak luas bagi masyarakat. Oleh karena itu, pengukuhan ini harus dimaknai sebagai awal dari kontribusi yang lebih besar, bukan akhir dari perjalanan akademik.
Hantono





Tinggalkan Balasan