“Hanya Baju di Badan”: Ratapan Korban Kebakaran Desa Mudik Gunungsitoli yang Kehilangan Tempat Bernaung dan Ruang Aman Psikologis Mereka

Posted by

Krisis kemanusiaan berupa kehilangan tempat tinggal yang traumatis kini membayangi sedikitnya 12 Kepala Keluarga (KK) pascakebakaran hebat yang melanda permukiman padat penduduk di Dusun II Desa Mudik, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli pada Rabu (29/7/2026) siang. Peristiwa memilukan yang diduga dipicu oleh arus pendek listrik ini menghanguskan dua unit rumah warga serta merusak dua bangunan di sekitarnya hingga rata dengan tanah. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian material ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, satu warga dilarikan ke rumah sakit, dan puluhan jiwa kini terlunta-lunta tanpa arah karena kehilangan seluruh harta benda mereka secara mendadak.

Berdasarkan laporan resmi UPTD Pemadam Kebakaran dan BPBD Kota Gunungsitoli, kobaran api pertama kali terlihat sekitar pukul 12.45 WIB dari lantai dua sebuah rumah kost milik Samawiyah Gea yang dihuni oleh sedikitnya 20 jiwa. Api dengan cepat merembet dan merusak rumah di sebelahnya yang dihuni oleh 7 jiwa, terdiri atas anak bayi dan orang dewasa. Ironisnya, saat petaka terjadi, para pemilik rumah sedang berada di luar untuk bekerja mencari nafkah. Hal inilah yang memicu kepedihan paling mendalam; tanpa adanya upaya penyelamatan mandiri di awal, seluruh isi rumah—mulai dari dokumen penting, tabungan, hingga barang berharga—tidak dapat diselamatkan dan hangus terbakar tanpa sisa.

Aspek kehilangan tempat tinggal secara mendadak ini menjadi pukulan batin yang luar biasa berat bagi para korban, terutama karena mereka kini benar-benar tidak memiliki aset pemulihan sama sekali. Salah seorang korban pemilik rumah yang posisinya berada tepat di sisi asal kobaran api menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang kini menjadi tunawisma dalam sekejap. Dengan baju yang basah oleh air mata, ia berujar kepada media bahwa mereka kini hanya memiliki sehelai baju yang melekat di badan karena rumah mereka sudah rata dengan tanah saat ditinggal bekerja. Nestapa serupa juga dirasakan oleh Ina Desi, salah seorang penghuni kos yang kebingungan dan syok berat karena kehilangan tempat bernaung. Mereka kini dihadapkan pada ketidakpastian ekstrem mengenai di mana mereka akan tidur nanti malam dan bagaimana membangun kembali kehidupan dari nol.

Secara medis dan psikologis, kehilangan tempat tinggal akibat bencana mendadak seperti ini bukan sekadar kehilangan materi, melainkan sebuah runtuhnya pilar rasa aman (senses of security) bagi manusia. Menurut analisis psikologi kebencanaan, kehilangan rumah secara tiba-tiba dapat memicu Acute Stress Disorder (ASD) yang berpotensi berkembang menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) jika tidak ditangani dengan cepat. “Rumah adalah jangkar psikologis manusia yang diasosiasikan dengan perlindungan, privasi, dan stabilitas emosional. Ketika rumah terbakar habis beserta seluruh memori di dalamnya, individu akan mengalami disorientasi parah, rasa hampa, dan kecemasan eksistensial yang akut karena hilangnya ruang aman mereka,” ungkap pakar psikologi klinis. Kerentanan ini akan berlipat ganda pada kelompok rentan seperti anak bayi dan lansia yang ikut terdampak dalam kebakaran di Desa Mudik ini.

Upaya pemadaman di lapangan sempat terhambat oleh kondisi geografis permukiman yang berada di dalam gang sempit serta berjarak sekitar 100 meter dari Jalan Raya Sutomo, sehingga menghambat laju evakuasi dan masuknya armada. Kendati demikian, aksi tanggap darurat segera dilakukan oleh aparat gabungan. Ps Kasat Lantas Polres Nias, Ipda Ovaroni Zendrato, S.H., bersama personel Polres Nias lainnya langsung berjibaku memadamkan api. Anggota Kodim 0213/Nias, termasuk Babinsa Syukur Zebua, juga turun ke lokasi memblokir sebaran api. Nahas, di tengah kepanikan, seorang warga yang mencoba menyiram rumahnya secara mandiri terjatuh dan harus dievakuasi oleh petugas ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif.

Amukan si jago merah baru berhasil dikendalikan sepenuhnya pada pukul 14.52 WIB setelah Pemko Gunungsitoli mengerahkan 3 unit mobil pemadam, 1 unit mobil tangki pemadam, 1 unit mobil tangki BPBD, dan 30 personel. Dampak riil dari bencana ini menyasar langsung pada 12 KK yang terdiri dari 5 pemilik rumah dan 7 KK penghuni kontrakan. 

Melihat skala kerusakan dan kedaruratan tempat tinggal ini, Wali Kota Gunungsitoli, Sowa’a Laoli, S.E., M.Si., langsung meninjau lokasi kebakaran. Didampingi jajaran BPBD dan Camat Gunungsitoli, Wali Kota memastikan penyaluran bantuan darurat tahap awal berupa logistik pangan dan sandang. Sowa’a Laoli menegaskan bahwa pemulihan pascakebakaran tidak boleh ditunda dan akan dikoordinasikan lintas perangkat daerah demi mempercepat pengadaan hunian sementara serta dukungan trauma healing bagi para korban yang kini kehilangan segalanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *