Air Mata Pandemi Menjelma Kebun Pangan: Perjuangan Jurnalis Gunungsitoli Mengetuk Pintu Kemandirian di Atas Parit

Posted by

Seorang jurnalis lokal di Kota Gunungsitoli, Ahmad Sabran Jamil Mendrofa, berhasil menyulap pekarangan rumah kontrakan dan parit jalan menjadi lumbung pangan swadaya bernama “Agribisnis Kebun Kreatif Jurnalis”. Langkah nyata ini diinisiasi di Jalan Raya Gunungsitoli-Afia No. 517, Dusun III Umbu, Desa Olora, Kecamatan Gunungsitoli Utara, guna menekan tingginya ketergantungan pasokan sayur dari luar Pulau Nias.

Inisiatif mandiri ini muncul sebagai jawaban atas keterbatasan lahan subur dan air, sekaligus menjadi jembatan sosial bagi kampanye layanan publik Call Center Polisi 110. Ahmad menargetkan penanaman massal 110 batang untuk setiap komoditas baru; saat ini, ia telah merawat 101 polibag kacang panjang dan bersiap melakukan ekspansi ke sepuluh jenis sayuran lainnya.

Gerakan hijau ini menjadi babak baru bagi Ahmad, wartawan Kennedynews.id dan Surat Kabar Umum Kennedy Bersuara News. Sebelum aktif di dunia pers, Ahmad memiliki rekam jejak panjang di bidang pemberdayaan sebagai tutor transmigrasi di Aceh Utara (1995–2000), sebelum akhirnya berpindah ke Riau.

Ia sempat beralih haluan menjadi pengusaha konstruksi kaca dan aluminium, namun bisnisnya gulung tikar akibat hantaman hebat pandemi Covid-19. Kegagalan tersebut memicu naluri agribisnisnya untuk pulang ke tanah kelahiran di Nias, memilih membuktikan kecintaan daerah lewat peluh pertanian di bumi.

Menghadapi kondisi tanah utara Gunungsitoli yang menantang, Ahmad secara taktis menggunakan polibag ukuran 35×40 cm seberat 5 kg sebagai media tanam. Keterbatasan air disiasati dengan merakit botol plastik bekas dari sekitar lingkungan Mapolres Nias menjadi instalasi irigasi tetes yang presisi.

Guna mendapatkan media tanam berkualitas, Ahmad membersihkan sedimentasi tanah kompos yang menyumbat parit-parit di pinggir jalan desa. Langkah ini memberikan dampak ganda: menyuburkan tanaman pangan sekaligus meminimalisir risiko luapan air banjir saat curah hujan tinggi di wilayah Dusun III Desa Olora. Polibag tersebut disusun menggunakan sistem domino yang simetris dan rapi.

Di tengah keterbatasan area, Ahmad berencana mengoptimalkan sisa ruang kosong di sekitar pekarangan rumah kontrakan menggunakan teknik tumpang sari. Penggunaan polibag tetap dipertahankan secara konsisten agar tanaman pangan baru tidak mengganggu tanaman hias yang sudah ada.

Metode isolasi polibag yang fleksibel ini dipilih secara cermat demi menjaga estetika lingkungan. Penataan tersebut memastikan rumput Jepang milik pemilik kontrakan tetap tumbuh subur tanpa terusik oleh aktivitas budidaya sayur-mayur.

Bagi mantan Humas DPD LSM PKP Pedang Keadilan Perjuangan Kota Gunungsitoli ini, tanaman pangan memiliki siklus hidup yang indah dan dinamis untuk mempercantik halaman rumah pada setiap musim tanam.

Ahmad mengampanyekan gerakan agar setiap kepala keluarga menanam minimal 5 polibag untuk sepuluh jenis sayuran di pekarangan masing-masing. Menurut kalkulasinya, gerakan sederhana ini dapat memutus rantai ketergantungan pangan Kepulauan Nias dari pasokan luar daerah.

Sebagai gerakan yang lahir dari swadaya murni, proyek Kebun Kreatif Jurnalis ini kini menghadapi tantangan keterbatasan modal operasional untuk pengadaan bibit lanjutan, pupuk, hingga alat pertanian. Ahmad berharap aksi ini mendapat perhatian serta dukungan regulasi dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Gunungsitoli, serta jalinan kemitraan operasional dari Kapolres Nias.

Selain berharap pada instansi resmi, Ahmad berikhtiar mengajukan permohonan pinjaman modal tanpa bunga secara digital melalui pesan WhatsApp kepada tokoh masyarakat Kepulauan Nias, Dr. (H.C) Yusman Dawolo, M.Kom.I. Saat dikonfirmasi mengenai perkembangan proposal tersebut, Yusman Dawolo memberikan tanggapan singkat bahwa pesan telah diterima namun masih dalam proses antrean untuk dipelajari lebih lanjut karena kesibukan aktivitasnya. 

Ahmad berharap pesan digital dari sudut Desa Olora tersebut dapat segera ditinjau demi keberlanjutan kemandirian pangan di wilayahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *