
Gunungsitoli // Kennedynews.id
Sebuah gerakan revolusi hijau berskala mandiri kini tengah merayap dari pinggiran parit Jalan Raya Gunungsitoli-Afia No. 517, Dusun III Umbu, Desa Olora, Kecamatan Gunungsitoli Utara. Didorong oleh keprihatinan mendalam terhadap ketergantungan pangan Pulau Nias dari luar daerah, seorang jurnalis kritis yang juga Kepala Biro (Kabiro) Kota Gunungsitoli Media Kennedynews.id dan Surat Kabar Umum Kennedy Bersuara News, menginisiasi sebuah program agribisnis bertajuk “Kebun Kreatif Jurnalis”.
Gerakan ini bukan sekadar urusan perut. Program ini dirancang khusus untuk mendukung kampanye program Call Center Polri 110 agar dapat menjalar, merambat, dan dikenal luas di seluruh lapisan masyarakat, layaknya filosofi tanaman kacang panjang yang tengah disemai.
Dari Botol Bekas Hingga Target 110 Batang per Komoditi
Saat ini, di atas lahan kontrakan tersebut, telah tumbuh subur 101 polibag ukuran 5 kg tanaman kacang panjang dengan modal awal Rp 23.500,00 untuk polibag dan Rp 25.000,00 untuk satu bungkus bibit berisi 205 butir. Guna menyiasati keterbatasan biaya dan menjaga efektivitas penggunaan air, sistem irigasi tetes rakitan diterapkan dengan memanfaatkan botol air mineral bekas yang dikutip secara swadaya dari sekitar Mako Polres Nias.
Tidak berhenti di situ, jurnalis ini menargetkan pengembangan kebun dengan menanam 10 macam komoditi sayur-mayur. Uniknya, setiap komoditi dipatok berjumlah tepat 110 batang—sebuah simbol hidup untuk menyuarakan layanan darurat kepolisian. Jenis tanaman akan mencakup sayuran merambat maupun non-merambat seperti cabai dan tomat. Langkah ini dipicu oleh realita miris yang disaksikan langsung di pelabuhan: setiap kapal penumpang yang bersandar di Nias didominasi oleh truk dan mobil pembawa pasokan sayur dari luar pulau.
Proyek mandiri ini juga membawa misi lingkungan. Dengan memanfaatkan tumpukan tanah kompos dan tanah subur yang selama ini menyumbat parit di pinggir jalan sekitar halaman rumah kontrakan, pembersihan ini sekaligus berfungsi ganda: sebagai media tanam subur dan memastikan drainase tetap lancar terhindar dari banjir saat hujan turun. Dukungan moral dan sinergi dari seluruh unsur masyarakat kini sangat diharapkan demi keberlanjutan aksi nyata ini.
Menagih Janji Modal UMKM Yusman Dawolo: Untuk Semua atau Golongan Tertentu?
Namun, visi besar mengedukasi masyarakat lewat tindakan nyata ini kini membentur dinding keterbatasan modal. Pengembangan “Kebun Kreatif Jurnalis” ini membutuhkan stimulus dana yang tidak sedikit agar mampu bertransformasi menjadi role model agribisnis lokal yang berdampak luas.
Harapan besar dan sorotan tajam kini diarahkan kepada Yusman Dawolo, tokoh yang selama ini dikenal publik kerap menggembar-gemborkan bantuan modal usaha UMKM hingga puluhan juta rupiah. Sebagai seorang penulis berita yang dikenal kritis, sang jurnalis menantang komitmen tersebut melalui aksi nyata ini.
Masyarakat kini bertanya-tanya dan menanti bukti: Apakah bantuan modal puluhan juta yang sering dipublikasikan oleh Yusman Dawolo itu benar-benar murni ditujukan bagi masyarakat kreatif yang sangat membutuhkan stimulan, ataukah bantuan tersebut selama ini hanya berputar di lingkaran kalangan tertentu saja? Lewat cangkul dan pena, Kabiro Gunungsitoli ini ingin merubah pola pikir masyarakat bahwa jurnalis tidak hanya pandai menulis kritik, tetapi juga mampu turun ke tanah memberikan edukasi nyata demi ketahanan pangan daerah.
Respons Singkat Yusman Dawolo Menjawab Proposal Kemitraan
Guna memenuhi asas perimbangan berita (cover both sides) sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), pihak media sebelumnya telah melayangkan proposal resmi terkait pengembangan Kebun Kreatif Jurnalis ini kepada Yusman Dawolo. Saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu mengenai pengajuan tersebut, tokoh yang akrab disapa Bang YD ini memberikan respons yang sangat singkat melalui pesan aplikasi WhatsApp.
“Terima kasih infonya ketua,” ujarnya singkat tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai tindak lanjut atau kepastian realisasi bantuan modal tersebut.
Tanggapan super singkat ini memicu teka-teki baru di tengah masyarakat. Apakah kalimat tersebut merupakan bentuk apresiasi awal yang akan berujung pada aksi nyata, atau justru bentuk diplomasi publik normatif untuk menghindari komitmen konkret? Kini, bola panas pembuktian program pemberdayaan ekonomi itu sepenuhnya berada di tangan Yusman Dawolo, menjawab rasa penasaran publik apakah bantuan puluhan juta tersebut memang menyasar mereka yang benar-benar berjuang di bawah atau sekadar retorika panggung semata.
Penulis : Jamil Mendrofa
Editor : Admi





Tinggalkan Balasan