
Gunungsitoli // Kennedynews.id
Di tengah kepungan truk-truk pengangkut sayur yang memadati kapal penumpang di Kepulauan Nias, seorang jurnalis di Kota Gunungsitoli membuktikan bahwa pena dan cangkul bisa berjalan seiring. Lewat gerakan kreatif “Agribisnis Kebun Kreative Jurnalis”, ia menyulap pekarangan kontrakan dan botol bekas menjadi lumbung sayur mayur demi mendukung ketahanan pangan lokal.
Gerakan swadaya ini berlokasi di Jalan Raya Gunungsitoli-Afia No. 517, Dusun III Umbu, Desa Olora, Kecamatan Gunungsitoli Utara, Kota Gunungsitoli. Sang inisiator yang juga Kabiro Gunungsitoli, memulai proyek ketahanan pangan ini dengan menanam 101 polibag kacang panjang berukuran 5 kg seharga Rp23.500 dan satu bungkus bibit berisi 205 butir seharga Rp25.000.Untuk mensiasati minimnya lahan dan air, pria ini menggunakan botol air mineral bekas yang dipungut di sekitar Mapolres Nias sebagai wadah irigasi tetes yang hemat air.
Selain kacang panjang yang kini tumbuh sempurna, ia bersiap menanam 10 komoditas sayur mayur lainnya—baik yang merambat maupun tidak merambat seperti cabai dan tomat—dengan target masing-masing 110 batang. Menariknya, penanaman ini juga dibarengi kampanye program Call Center Polisi 110, dengan harapan pelayanan kepolisian dapat menjalar ke semua aspek dan melindungi masyarakat.”Tujuan awal murni untuk mengedukasi masyarakat secara nyata.
Kita tidak boleh terus bergantung pada pasokan sayur dari luar Pulau Nias. Melalui pemanfaatan parit pinggir jalan yang menumpuk tanah kompos dan subur, kita sekaligus menjaga drainase tetap lancar dari sumbatan saat hujan,” ujarnya, Selasa (15/7/2026).Saat ini, tantangan terbesar dari pengembangan agribisnis ini adalah ketersediaan modal untuk perluasan lahan dan pengadaan bibit lanjutan.
Sebagai penulis yang kerap mengkritisi kebijakan, ia berharap inovasi nyata ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Sorotan kini tertuju pada sosok Dr. (H.C) Yusman Dawolo, M.Kom.I, tokoh asal Kepulauan Nias yang selama ini dikenal luas dermawan dan kerap memberikan bantuan modal UMKM hingga puluhan juta rupiah. Akankah stimulus modal untuk menyukseskan program ketahanan pangan akar rumput ini sampai kepadanya?
Publik kini menunggu pembuktian, apakah bantuan modal dari sosok yang akrab disapa Bang YD tersebut benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan secara luas, ataukah hanya berputar di kalangan internal semata. Yang pasti, kebun kecil di Desa Olora ini telah membuktikan bahwa kemandirian pangan bukanlah mimpi, melainkan kerja keras yang dimulai dari botol bekas.
Penulis : Jamil Mendrofa
Editor : Admin





Tinggalkan Balasan